Sinopsis Mohabbatein Episode 70 (ANTV) ,9 Oktober 2016

Drama serial "Mohabbatein" merupakan film India yang di tayangakan oleh ANTV. Film ini merupakan salah satu dari banyak film India yang telah ANTV tayangkan .Mohabbatein tayang di Indonesia untuk kedua kalinya pada 1 agustus 2016 yang dulu pernah juga ditayangkan oleh RCTI dengan judul RUHI TERSAYANG pada tahun 2015 akhirdan sekarang telah banyak mendapat kan penggemar seperti film Uttaran .Film Mohabbatein adalah film romantis yang mengisahkan percintaan pria dudu dan perempuan cantik yang merupakan seorang dokter .

Sinopsis Mohabbatein Episode 70, 9 Oktober 2016

Sinopsis "Mohabbatein" (ANTV) Episode 70 Tayang minggu 9 Oktober 2016 dimulai dari , Di klinik dokter gigi langganan Raman, Ishita dan Raman yang saling bertemu disana, rupany sama sama terkejut satu sama lain “Kamu disini ?”, “Aku dengar semuany yang kau bicarakan dengan temanmu” ujar Raman kesal “Lalu apa maksudny semua ini ?”, “Aku tidak mau kau mengobati saya !” Raman menolak Ishita “Aku katakan padamu, kau tidak akan mendapatkan dokter gigi lainny, biarkan saya melakukan pekerjaanku” pinta Ishita, akhirny Raman pasrah di obati oleh Ishita, Ishita mulai melakukan pemeriksaan pada gusi Raman, saat itu gelang gelang Ishita menykiti Raman “Lepaskan saja gelang gelang itu” akhirny Ishita melepas gelang gelangny kemudian mengecek lagi gusi Raman  “Lukamu sangat dalam, jadi saya harus menjahitny, untuk itu saya harus membius kamu, jadi saya harus menyuntik gusimu” dalam hati Ishita berkata kalau nyony Bhalla pernah berkata kalau Raman sangat takut pada jarum suntik,

Ishita kemudian mengambil sebuah suntikkan yang sangat besar dan berkata “Kamu telah menolak mendonorkan darah untuk Ruhi kan, jadi sekarang kau akan mendapatkan ini !” Raman kaget “Apa itu ?” Ishita langsung tertawa tergelak dan berkata  “Aku hany menakutimu” kemudian Ishita memberi Raman suntikkan dan akhirny Raman kehilangan kesadaranny dan sebuah kain mengitari dadany, dilihatny Raman menangis “Raman, kenapa kau menangis ? Apakah sakit ?” tany Ishita “Adi, Adi jangan tinggalkan ayah, ayah tahu kalau ayah ini bukanlah ayah yang baik buatmu” rupany Raman mengigau setelah terkena bius “Ruhi, Ruhi juga bukan putri ayah, Ashok bilang kalau Ruhi adalah anakny, Ruhi adalah anak Ashok”  Ishita terkejut mendengarny dan berkata “Jadi ini yang terjadi di pesta itu, dimana sikap Raman jadi berubah”

Akhirny setelah operasiny selesai, Ishita membawa Raman pulang ke rumah dan membuatny tidur di kamar, Ishita menatap wajah Raman yang sedang tertidur “Dia terlihat begitu polos ketika sedang tidur, namun apa yang dia katakan tadi tentang Ruhi ? Apakah dia sungguh sungguh mengatakanny ? Kenapa dia merasa kalau Ruhi itu bukan anakny ? Ruhi anakny Ashok ?  Kenapa dia merasa seperti itu ?” Ishita mulai bertany tany “Aku tidak tahu masa lalu Raman dan Shagun namun apakah saya harus bertany padany tentang apa yang dikatakan Ashok padany, dia pasti tidak akan mengatakanny padaku atau pada orangtuany, saya harus mencari cara” kata Ishita

Keesokan hariny, Raman terbangun gara gara alarm yang berbunyi dan langsung mematikanny, Raman masih merasakan gusiny sakit “Ayo bangun atau kau akan membuat penykit lain yaitu pusing kepala”,  “Berikan saya obat” Ishita menggeleng “Maaf, saya tidak bisa memberikanny” Raman merasa heran “Tolong aku, kau ini kan dokter”, “Diamlah atau saya akan memberikan kau suntikan yang besar kalau kau banyk bicara” saat itu nyony Bhalla melihat kondisi Raman dan bertany “Raman, apa yang terjadi ?”, “Aku terluka kemarin, ibu” kata Raman,  Raman lalu meminta Rumi untuk membawakanny es, saat itu nyony Bhalla melihat Ishita tidak mengenakan gelang gelang pengantinny,

Nyony Bhalla langsung menegur Ishita “Aku sudah bilang sama kau kan, jangan melepaskan gelang gelang itu selama satu bulan ! Lihat kan suamimu itu terluka, itu karena kau telah melepaskan gelang gelang itu !”, “Ibu, bukan seperti itu, saya melepaskanny demi Raman, ibu” Ishita mencoba memberikan penjelasan ke ibu mertuany namun nyony Bhalla tetap marah dan berkata “Ini merupakan pertanda sangat buruk”, “Sudah cukup, ibu !” Raman mulai jengah “Aku minta maaf, ibu ,,, saya akan mengenakanny kembali” kata Ishita, tuan Bhalla mencoba menenangkan istriny dan meminta Ishita untuk mengenakan kembali gelang gelangny

Mihir dan Mihika bertemu di tangga “Aku benar benar tidak percaya, Raman bekerja dalam keadaan seperti ini ?” saat itu Mihir datang dengan membawa begitu banyk dokumen “Bagaimana kalau kita merencanakan sesuatu untuk mereka ?”,  “Aku rasa hany ada satu cara, kenapa kita tidak mengatur sesuatu dalam lingkungan kita ?” kata Mihir “Kakakku itu juara karambol di sekolahny dulu”, “Raman juga !”sahut Mihir “Pertandingan karambol“, “Sepertiny terdengar sempurna” kata Mihir senang “Aku akan menceritakan tentang hal ini pada bibi” akhirny Mihika dan Mihir mengatakan pada Amma tentang ide tersebut, semua orang menyukainy “Bagaimana kalau kita melakukan besok lusa,  itu kan hari libur” sahut Appa “Bantu saya membuat posterny ya !” pinta Mihika

Ishita sedang merawat Ruhi, sementara Raman sedang bersiap siap untuk bekerja, Raman kemudian duduk untuk menikmati sarapan pagi “Selamat pagi, ayah” kata Ruhi, saat itu Simmi menelfon ke rumah dan nyony Bhalla yang mengangkatny “Ibu, bagaimana kabarny Ruhi ?”, “Ruhi baik baik saja” kemudian Ruhi ikut bergabung dengan nenekny dan menypa bibiny ditelfon “Ruhi dan Raman memang puny kebiasaan yang sama, saya bisa melihat kalau mereka itu ayah dan anak, apa Raman itu buta ?” Raman langsung menegur Ishita “Ishita, jangan ngomong sendiri seperti itu atau saya akan mengirimkan kau ke rumah sakit jiwa” tegur Raman “Ayah, semoga ayah cepat sembuh ya” kata Ruhi senang,  Raman segera keluar, sedang Ishita tersenyum

Mihika dan Mihir sedang membuat poster, Mihika memuji Ishita, sedangkan Mihir memuji Raman  “Kakak menikah dengan Raman itu hany demi Ruhi, kak Ishita memang rela mati demi seseorang yang dia sayangi”, “Kalau begitu mereka berdua itu sama, seharusny ada cinta diantara mereka, kalau mereka saling mencintai satu sama lain makan mereka akan menjadi pasangan yang sempurna” saat Mihika dan Mihir sedang ngobrol sambil membahas soal poster yang sedang mereka buat, tanpa sengaja wajah mereka saling dekat satu sama lain sehingga membuat mereka canggung, saat itu Amma datang menghampiri mereka, Mihir dan Mihika jadi semakin canggung satu sama lain “Kopiny sudah siap”, “Posterny juga sudah siap, bibi” kata Mihir sambil menunjukkan poster buatan mereka ke Amma, Amma hany tersenyum kemudian berlalu dari sana

Ishita pulang ke rumah dan menypa mertuany “Ayah, Ruhi dan Raman itu memiliki kebiasaan yang sama”, “Ruhi memang fotokopiny Raman namun sayangnny Raman hany memikirkan tentang mencari uang saja,  dia tidak peduli sama Ruhi” sahut tuan Bhalla, nyony Bhalla mendengar semua pembicaraan mereka, kemudian Ishita hendak bersiap siap ke klinik, dari tempatny berdiri nyony Bhalla merasa geram “Rupany Ishita mulai mengendalikan suamiku” nyony Bhalla merasa kesal,

Sementara itu ketika Ishita masuk ke dalam kamar mandi, dilihatny kamar mandiny penuh dengan air, Ishita mengeluh soal kamar mandi, kebetulan Raman mendengar ucapan Ishita dan menyuruhny untuk mandi di rumah orangtuany, Ishita merasa kesal sambil membersihkan kamar mandi,  setelah selesai Ishita berkata pada diriny sendiri “Bagaimana bisa Raman berfikir kalau Ruhi itu bukan anakny, dia benar benar bodoh ! Apalagi dia berlaku kasar dengan Ruhiku, saya harus melakukan sesuatu” kata Ishita sambil menyisir rambutny, Ishita baru teringat kalau ada sebuah cara yaitu test DNA

Baca cerita sebelumnya Sinopsis Mohabbatein episode 69 dan episode selanjutnya yang tayang 10 Oktober 2016 Mohabbatein episode 71

Subscribe to receive free email updates: