Sinopsis Mohabbatein Episode 81 (ANTV) 19 Oktober 2016

Drama serial "Mohabbatein" merupakan film India yang di tayangakan oleh ANTV. Film ini merupakan salah satu dari banyak film India yang telah ANTV tayangkan .Mohabbatein tayang di Indonesia untuk kedua kalinya pada 1 agustus 2016 yang dulu pernah juga ditayangkan oleh RCTI dengan judul RUHI TERSAYANG pada tahun 2015 akhirdan sekarang telah banyak mendapat kan penggemar seperti film Uttaran .Film Mohabbatein adalah film romantis yang mengisahkan percintaan pria dudu dan perempuan cantik yang merupakan seorang dokter .

Sinopsis Mohabbatein Episode 81, mohabbatein 19 Oktober 2016

Sinopsis "Mohabbatein" (ANTV) Episode 81 Tayang rabu 19 Oktober 2016 dimulai dari ,Dokter sedang memeriksa keadaan nyony Bhalla “Kondisi kesehatan nyony Bhalla sedang dalam keadaan kurang baik, tulang kaki nyony Bhalla agak retak, jadi harus benar benar membutuhkan istirahat yang banyk” Raman sangat khawatir dengan keadaan ibuny setelah mendengar penjelasan dokter “Ibu hany membutuhkan istirahat selama 6 minggu, ibu akan bermain kartu dengan ayahmu dan meminum soda” tidak lama kemudian dokterpun pulang “Ibu, sebaikny ibu benar benar istirahat di tempat tidur, tidak usah memikirkan apapun” Raman lalu menyuruh adikny Rumi untuk menjaga ibuny “Kakak, kak Mihir datang” sela Rinki, kemudian Raman dan Ishita mulai ngobrol dengan Mihir tentang pesan pesan yang ditulisny

“Iya, memang saya yang menulisny untuk Mihika”, “Aku kenal dengan tulisan tanganmu, kau sudah bekerja denganku sejak beberapa tahun lamany namun untuk apa kau menulis seperti ini ?” tany Raman heran “Iya kenapa kau menulis seperti ini ? Karena ini artiny kau kamu mencintainy kan dan peduli padany, bukan begitu ? namun kenapa kau ingin menemui adikny tuan Tandon ?” sela Ishita “Lihat kan ? Dia pikir saya ini Hitler yang bisa mengontrol kehidupanmu, ceritakan yang sebenarny padany” Raman menimpali ucapan Ishita “Lalu apa keputusanmu ?”, “Bukankah kau ingin menemui Trisha ?” sela Raman

“Aku setuju seperti yang kau minta padaku, Raman ,,, saya belum menolakny sampai sekarang”, “Lihat kan dia menghargai saya dan dia juga mengerti kalau Mihika itu tidak cocok denganny” Raman kemudian berlalu meninggalkan mereka, Mihir meminta maaf “Kenapa kau minta maaf sama saya ?”, “Aku tidak bisa menjelaskan hubunganku dengan Raman pada siapapun, saya selalu melakukan apa yang dia katakan, jadi saya akan melakukan apa yang dia minta” Ishita menggelengkan kepalany “Aku benar benar tidak percaya ini” Mihir kemudian berlalu dari sana, Ishita teringat pada Mihika dan menangis sedih


Malam hariny, Ruhi menangis “Aku tidak ingin tidur kalau tidak ada ibu Ishi” rengek Ruhi “Ibu Ishi pasti sebentar lagi akan pulang” bujuk nenekny, saat itu Raman yang pulang duluan mulai bertany “Ada apa ini ?”, “Kami tidak tahu dimana kak Ishita malam ini, dia tidak mengangkat telfonny sedari tadi” sahut Rinki “Kalian tidur saja, saya akan membawany pulang” Raman berjanji pada Ruhi akan membawa ibu Ishiny pulang “Dimana dia malam malam begini ?”, “Ini ada batasny, ibu” sahut Raman kesal “Raman, mungkin dia ada pasien darurat”, “Dia itu dokter gigi, ibu ,,, dia bisa mengangkat telfon” Raman semakin kesal

Beberapa saat kemudian nyony Bhalla bertany lagi tentang Ishita “Apa yang terjadi padany, apakah Ishita sudah pulang ?”, “Belum, ibu” sahut Rinki “Ruhi menangis terus kan ?”, “Kami sudah menidurkanny, ibu tidak usah khawatir” hibur Rinki, Raman lalu menelfon klinikny Ishita namun ternyta Ishita tidak ada di klinik, Raman juga bertany pada Appa dan Amma tentang Ishita, mereka juga tidak tahu,  semua orang mulai mencari Ishita .

Mihika juga menelfon Bala dan bertany tentang Ishita namun jawabanny tetap nihil, Raman juga bertany pada penjaga gedung, Amma mulai cemas “Jangan khawatir, Madu ,,, Raman saat ini sedang mencariny” hibur Appa, saat itu Raman masih terus berusaha mencari kemana istriny pergi hingga larut malam begini, Raman bahkan sampai menanykan ke beberapa polisi yang ditemuiny, semua orang dirumah merasa cemas “Suamiku, Ishita biasany selalu memberitahu kalau dia pulang terlambat” Amma semakin cemas

Ketika Raman hendak pergi ke kantor polisi, Ishita akhirny sampai dirumah, Amma merasa heran “Ishita, kau baik baik saja ?”, “Kemana saja kau sampai jam 3 dini hari seperti ini ?” Raman menegurny “Aku minta maaf, saya telah melukai semua orang disini, saya hany merasa sedih jadi saya ingin sendirian” Raman langsung mencegah Ishita yang hendak masuk ke kamarny  “Kami bertany padamu, kau harus menjawabny

Dulu ketika kau sedih, kau juga menghilang dan pulang kerumah dalam keadaan mabuk, apakah saya menanyi kau waktu itu ? Apakah ada seorangpun yang bertany padamu ? Tidak ada kan ? Lalu kenapa sekarang kau bertany padaku ?” sindir Ishita sinis “Maksudmu saya ini jahat begitu ? kau ini seorang ibu India kan ? Bagaimana bisa kau lupa sama Ruhi ?”, “Ishu, Ruhi menangis terus sedari tadi, dia juga kesini mencari kamu” sela Amma

“Aku tidak peduli dengan siapa kau tadi namun putriku menangis karena kamu, saya tidak bisa terima kalau dia menangis lagi, saya akan mengusirmu dari rumah ini kalau sampai anakku menangis lagi gara gara kau !” bentak Raman kesal “Aku tidak ingin memberikan penjelasan apapun !” Appa langsung menyela meminta maaf pada tuan Bhalla atas nama Ishita,  Appa juga menegur Ishita “Kamu tahu betapa khawatirny kami semua disini menunggu kau pulang, Ruhi sampai susah di kendalikan karena menangis terus ! Katakan pada kami, kemana kau tadi dan untuk apa ?” tergur Appa “Ayah, jangan tanykan apa apa padaku”, “Selama ini ayah bangga sama kau namun hari ini kau sudah memalukan ayah !” bentak Appa keras

“Aku minta maaf, ayah” Raman langsung menghentikan langkah Ishita lagi “Kami menanykan sesuatu padamu” namun Ishita tidak menggubrisny dan segera berlalu ke kamarny “Sudah, biarkan dia pergi, kita akan bicara lagi denganny nanti, tidak usah khawatir tuan Iyer, mungkin karena pertengkaranku dengan Raman, hingga membuatny sedih, sudah sekarang kita semua pergi tidur” sela tuan Bhalla, Raman meminta maaf pada Appa dan Amma “Kalian bisa mengerti kan keadaanny” kemudian Raman berlalu dari sana

Ishita menemui Ruhi di kamar nyony Bhalla sambil menangis “Ibu minta maaf sayang, ibu tidak berharap kau menangis” tuan Bhalla menghampiriny “Ayah, saya bawa Ruhi ke kamarku jadi begitu dia bangun, dia bisa melihat aku”, “Kemana kau pergi tadi ? Kenapa kau tidak mengatakanny pada siapapun ?”  tany tuan Bhalla, saat itu Ruhi bangun dan bertany “Ibu Ishi kemana saja ?”, “Aku ada disini bersamamu sayang” hibur Ishita “Semua orang meninggalkan saya seperti ibu Shagun”, “Ibu Ishi tidak akan pernah meninggalkan kamu, kau adalah hidupku sayang, coba kau rasakan detak jantung, ibu” Ishita juga meminta Ruhi merasakan detak jantungny sendiri

“Bagaimana ? Sama kan ? Ibu tadi ada pekerjaan, seperti hari ini, ibu keluar untuk bekerja, seperti ayahmu, namun itu bukan berarti kalau dia tidak menyyangi Ruhi kan ? kami berdua sangat menyyangi Ruhi dan kami berdua juga tidak akan penah meninggalkan kamu” Ruhi tersenyum senang “Dimana ayah ?” tany Ruhi Ishita kemudian menunjukkan pada Ruhi, kalau ayahny tidur di sofa “Apa apaan ini ?” tany Ruhi heran “Ayahmu itu sukany menendang kalau sedang tidur jadi lebih baik ayah tidur di sofa” mereka berdua lalu saling tertawa bersama

Keesokan hariny, nyony Bhalla sedang membuat sarapan pagi “Toshi, dokter kemarin bilang kan agar kau beristirahat, jangan paksakan dirimu”, “Sudah lupakan saja, hari ini ada perayaan besar, hari ini kan ulang tahunny Adi”  kata  nyony Bhalla sambil menangis haru “Bhalla, jangan hentikan aku”, “Kenapa saya akan melakukanny ? kau ini kan nenekny, berbahagialah” nyony Bhalla memeluk suaminy “Apakah kau sudah bicara dengan Ishita ?”, “Tidak perlu ! Biar Raman dan Ishita saja yang saling ngobrol”  kata  nyony Bhalla

Di dalam kamar, Raman menghampiri Ishita dengan perasaan kesal, saat itu Ishita sedang bersiap siap hendak pergi ke kllinikny, tiba tiba Mihika menelfonny “Aku tidak ingin bicara tentang kejadian semalam, Mihika”, “Kakak, saya ada interview pekerjaan, saya dapat pekerjaan, kak ,,, dan tugas ku yang pertama adalah perayaan acara holi” sahut Mihika “Waah selamat yaaa, namun saya sedang sedih”, “Kakak, seharusny seharusny kakak cerita sama aku” pinta Mihika 

Aku harus pergi sekarang, saya akan bicara denganmu nanti” Ishita lalu menutup telfonny, tiba tiba Raman menyindir Ishita dengan berkata “Cara yang bagus untuk memerasku, keputusanku sudah final ! Permainanmu tidak akan mempengaruhi aku, Mihir bisa saja mati namun dia tidak akan menentangku, lupakan saja soal Mihir dan Mihika” Ishita langsung pergi dan tidak menggubris sindiran Raman

Baca cerita sebelumnya Sinopsis Mohabbatein episode 80 dan episode selanjutnya yang tayang 20 Oktober 2016 Mohabbatein episode 82

Subscribe to receive free email updates: